
Ponorogo, 24 Juli 2026 — Kelompok Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) 01 Kolaboratif Moderasi Beragama yang beranggotakan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Institut Agama Islam (IAI) Ngawi, dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, menyelenggarakan kegiatan sarasehan moderasi beragama bertajuk “Ngobrol Santai” bersama pemuda-pemudi Kristen Grejo Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang berlokasi di Gedung TK Kristen Jawi Wetan, Dusun Trenceng, Desa Mrican. Mengangkat tema lintas iman dan fenomena sosial terkini, acara ini mengusung tajuk dialog interaktif seputar isu FOMO (Fear of Missing Out) serta pandangan keagamaan antara Kristen, Islam dan Buddha secara terbuka dan penuh rasa saling menghormati.
Acara dimulai pukul 19.15 WIB dengan mobilisasi massa dan pengondisian peserta, dilanjutkan pembukaan oleh moderator yang memperkenalkan diri sekaligus memandu peserta untuk saling mengenal satu sama lain. Sesi inti bertajuk “Ngobrol Santai” berlangsung interaktif, di mana setiap peserta memperkenalkan diri secara bergiliran sebelum masuk ke pembahasan dua isu utama, yakni fenomena FOMO di media sosial dan cara mengatasi keterpurukan.
Memasuki sesi diskusi, para peserta membedah fenomena FOMO, yang didefinisikan sebagai bentuk rasa tidak puas terhadap diri sendiri serta perasaan cemas akibat takut tertinggal oleh tren sosial yang berkembang. Selain topik FOMO, diskusi juga menyentuh sudut pandang ajaran agama Kristen, Islam dan Buddha mengenai topik-topik sosial, seperti pandangan terkait minuman beralkohol sebagai pelarian. Dari hasil diskusi bersama, disimpulkan bahwa cara utama untuk mengatasi FOMO adalah dengan memperkuat self-control (pengendalian diri) serta senantiasa bersyukur atas jalan hidup dan takdir yang dijalani, tanpa melulu mengukur kebahagiaan dari segi materi atau harta.
Dalam kesempatan tersebut, pendeta GKJW yang turut hadir, Tri Atmaja, menyampaikan pesan mendalam kepada para pemuda agar senantiasa memiliki self control dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam mempertimbangkan berbagai risiko yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan minum-minuman keras, baik risiko terhadap kesehatan diri sendiri maupun dampaknya terhadap hubungan sosial dengan orang lain.
Beliau turut mengangkat contoh budaya minum di sejumlah negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea, di mana tradisi minum minuman beralkohol justru dijadikan sebagai sarana untuk mempererat relasi sosial dan menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih dewasa atau lebih tua. “Toh, kalaupun di (agama) Kristen tidak haram, setidaknya tolong etika sosialnya diperhatikan saat minum”, tuturnya.
Melalui contoh tersebut, pendeta mengajak para peserta untuk melihat bahwa nilai penting yang perlu diambil bukan sekadar soal boleh atau tidaknya suatu kebiasaan, melainkan bagaimana kesadaran diri, batasan yang wajar, dan sikap hormat kepada sesama tetap dijunjung tinggi dalam praktiknya. Beliau menegaskan bahwa pada akhirnya, puncak dari segala bentuk pengendalian diri tersebut adalah kemampuan untuk bersyukur atas apa yang telah dimiliki dan mencari Surganya Allah (terminologi Kristen), alih-alih terus merasa kurang dan membandingkannya dengan nasib orang lain. “Sebab bagaimanapun, muara kita nanti ya Swargone Allah, yaitu kemampuan untuk merasa cukup dan hidup penuh kasih”, pungkas Tri Atmaja.
Usai sesi diskusi, peserta diberikan bookmark dan alat tulis untuk menuliskan kesan serta pesan mereka terhadap jalannya kegiatan. Suasana dilanjutkan dengan sesi ice breaking berupa permainan lawan intruksi. Rangkaian acara ditutup dengan sesi Grill N Chill, yang mana peserta secara natural terbagi menjadi dua tim, yaitu tim musik dan tim bakar-bakaran, yang kemudian menikmati acara bakar-bakar dan makan bersama.

Kegiatan sarasehan ini berhasil menciptakan ruang dialog yang cair antara pemuda-pemudi Kristen dan mahasiswa KPM Moderasi Beragama kelompok 1. Sesi nge-grill dan makan bersama turut mempererat persaudaraan, melalui interaksi yang intens dan penuh kehangatan, selaras dengan nilai-nilai moderasi beragama yang menjadi ruh dari pengabdian mahasiswa.
Muhammad Al-Fatih, ketua kelompok 1 KPM Kolaboratif Moderasi Beragama Desa Mrican menyampaikan harapannya dengan jelas, “insya Allah, kegiatan ini bisa menjadi contoh indahnya perbedaan dalam persatuan, yang saya yakin akan bermanfaat bagi kita semua, mahasiswa dan pemuda Kristen, sebagaimana tujuan besar pengabdian kami, yaitu terbentuknya masyarakat welas asih, humanis dan guyub rukun”. Kegiatan telah usai, tetapi peserta sebagian besar masih menetap, memilih bercengkerama asik sampai larut malam.
